Kesuksesan merupakan suatu hal yang diidam-idamkan oleh semua orang. Kesuksesan dalam pekerjaan, bisnis, studi, bidang politik, sosialitas dengan sesama, hubungan keluarga, pelayanan dan masih banyak hal lagi yang menjadi idaman manusia. Ada yang hanya menunggu saja kapan datangnya kesuksesan itu, tetapi sebagian bekerja keras untuk berusaha meraih kesuksesan itu. Salah satu motivator nomor satu di Indonesia saat ini, Andrie Wongso, mempunyai moto yang sangat membangkitkan motivasi banyak orang: “Success is my right”, sukses adalah hak-ku.
Sebagaimana yang kita tahu, bahwa ketika kita menunaikan kewajiban kita, maka kita memperoleh hak kita baik sebagai seorang warga negara atau dalam posisi apapun. Demikian juga Tuhan berjanji bahwa ketika kita berjalan di dalam firmanNya, maka Dia akan memberikan keberhasilan bagi kehidupan kita. Kesuksesan merupakan bagian bagi setiap orang yang percaya kepadaNya.
Bagaimana caranya untuk meraih kesuksesan hidup?
1. Renungkan Firman Tuhan
Tuhan mengingatkan kita agar tidak lupa memperkatakan firmanNya. Dia ingin supaya kita merenungkannya siang dan malam.
“Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” Maz 1:2-3
Firman Tuhan sanggup mencipta apa yang tidak ada menjadi ada. Dengan firmanNya maka segala sesuatu dapat jadi. Biarlah kehidupan kita senantiasa penuh dengan renungan firmanNya, maka keberhasilan akan mendatangi hidup kita.
Hidup dalam firmanNya membuat kita memperoleh janji kesuksesan yang sudah Dia sediakan bagi kita.
2. Rajin bekerja
“Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan” Ams 13:4
Berkat atau kesuksesan tidak datang dengan sendirinya. Walaupun kita sudah rajin berdoa dan membaca firman Tuhan, kita dituntut untuk rajin bekerja. Firman Tuhan jelas sekali menyatakan bahwa orang yang rajin akan diberi kelimpahan (baca Ams 10:4, 12:24, 12:27, 21:5), sedangkan kemalasan mendatangkan kemiskinan.
Sikap menunda-nunda pekerjaan juga bukan suatu hal yang baik. Marilah kita membuat tangan kita rajin bekerja. Kerjakan apa yang bisa kita kerjakan. Ketekunan dalam melakukan suatu pekerjaan akan mendatangkan keberhasilan dan kesuksesan.
Kesuksesan bukanlah bagian atau hak dari beberapa orang saja. Tuhan ingin agar setiap umatNya dapat berhasil dalam hidupnya. Hidup dalam firmanNya dan rajin bekerja merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ada satu istilah yang dapat menjadi pedoman bagi kita: Ora et Labora, yang berarti berdoa dan bekerja. Rasul Paulus juga menegaskan bahwa selain memberitakan firman Tuhan, dia juga tidak lalai dalam bekerja (2 Tes 3:7-10). Raihlah kesuksesan bagi hidup anda.
Total Tayangan Halaman
Senin, 21 September 2009
”MAU BERBAGI SIMPATI DAN EMPATI”
Bacaan : Ayub 2:11-13
11Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. 12Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. 13Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.
USAH KAU LARA SENDIRI
”Letakkanlah tanganmu di atas bahuku, biar terbagi beban itu dan tegar dirimu, di depan sana cahya kecil \'tuk memandu, tak hilang arah kita berjalan menghadapinya ...." Demikian sepenggal syair lagu Usah Kau Lara Sendiri yang dinyanyikan Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya. Syair itu ditulis untuk para penderita AIDS. Menurut data Departemen Kesehatan, jumlah penderita AIDS di Indonesia saat ini telah lebih dari 11.000 orang.
Uluran simpati dan empati bagi seseorang yang tengah menanggung beban hidup sangat berat ibarat secangkir air di padang gersang; sangat menyejukkan dan menguatkan.
Ayub tentunya merasakan hal demikian. Ketika berada di tengah penderitaan yang begitu hebat, para sahabatnya-Elifas, Bildad, dan Zofar-datang memberi penghiburan (ayat 11). Mereka duduk bersamanya dan berkabung atas apa yang dialaminya (ayat 13).
Sebaliknya, jika rasa simpati dan empati itu hilang, beban hidup terasa berat berkali-kali lipat. Pada 1993, seorang pria pengidap HIV di Kalifornia meninggal. Namun, ternyata bukan virus itu yang menyebabkan kematiannya. Ia meninggal gara-gara gangguan syaraf akibat perasaan tertekan karena teman-teman dan keluarga menjauhinya. Ia merasa sangat kesepian; tak punya tempat untuk mengadu dan berbagi beban. Rasa tidak diperhatikan dan ditinggalkan ternyata jauh lebih berbahaya dari virus HIV.
Tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Kita diingatkan bahwa masih banyak saudara kita yang memerlukan uluran simpati dan empati. Mereka mendambakan bahu sebagai tempat berbagi beban.
11Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. 12Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. 13Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.
USAH KAU LARA SENDIRI
”Letakkanlah tanganmu di atas bahuku, biar terbagi beban itu dan tegar dirimu, di depan sana cahya kecil \'tuk memandu, tak hilang arah kita berjalan menghadapinya ...." Demikian sepenggal syair lagu Usah Kau Lara Sendiri yang dinyanyikan Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya. Syair itu ditulis untuk para penderita AIDS. Menurut data Departemen Kesehatan, jumlah penderita AIDS di Indonesia saat ini telah lebih dari 11.000 orang.
Uluran simpati dan empati bagi seseorang yang tengah menanggung beban hidup sangat berat ibarat secangkir air di padang gersang; sangat menyejukkan dan menguatkan.
Ayub tentunya merasakan hal demikian. Ketika berada di tengah penderitaan yang begitu hebat, para sahabatnya-Elifas, Bildad, dan Zofar-datang memberi penghiburan (ayat 11). Mereka duduk bersamanya dan berkabung atas apa yang dialaminya (ayat 13).
Sebaliknya, jika rasa simpati dan empati itu hilang, beban hidup terasa berat berkali-kali lipat. Pada 1993, seorang pria pengidap HIV di Kalifornia meninggal. Namun, ternyata bukan virus itu yang menyebabkan kematiannya. Ia meninggal gara-gara gangguan syaraf akibat perasaan tertekan karena teman-teman dan keluarga menjauhinya. Ia merasa sangat kesepian; tak punya tempat untuk mengadu dan berbagi beban. Rasa tidak diperhatikan dan ditinggalkan ternyata jauh lebih berbahaya dari virus HIV.
Tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Kita diingatkan bahwa masih banyak saudara kita yang memerlukan uluran simpati dan empati. Mereka mendambakan bahu sebagai tempat berbagi beban.
Langganan:
Postingan (Atom)